Selamat Datang Di Pangupodit.com, Semoga Semua Informasi Ini Bermanfaat Bagi Anda.
Tweet This! Share on Facebook Digg it! Add to Delicious! Stumble it

Inilah Masalah Bayi Sulit Makan

| October 7th, 2012 at 05:10 am

Pangupodit.com, Memberi makan pada bayi ternyata tidak selalu gampang. Mungkin ada ibu yang tidak menemui masalah berarti dalam memberi makan bayinya. Tapi sebaliknya, ada ibu lain yang menemui banyak kesulitan. Untuk membantu Anda, simak saja paparan tentang lima masalah makan pada bayi berikut tips mengatasinya.

Muntah kecil

Ini biasanya terjadi pada bayi baru lahir hingga berusia enam bulan. Kalau Anda perhatikan, bayi umumnya sering mengalami muntah kecil (orang Jawa biasa menyebutnya gumoh) setelah makan. Ini terjadi karena sistem pencernaan bayi yang belum sempurna. Tak seperti pada anak-anak yang lebih besar, pada bayi seusia ini umumnya otot yang berfungsi menahan isi perut belum menutup dengan sempurna. Akibatnya, makanan yang baru saja ia telan, mudah sekali keluar kembali.

Banyak ibu yang cemas kalau bayinya kerap muntah-muntah kecil seperti ini. Tapi menurut Susan B Roberts PhD, profesor gizi dari Tufts University, muntah-muntah kecil ini bukan sesuatu yang patut Anda cemaskan, dengan catatan berat badannya normal, alias selalu mengalami peningkatan sebagaimana mestinya. Pertanda lain bahwa bayi Anda cukup mendapatkan makanan adalah apabila ia buang air kecil enam sampai 10 kali sehari. Apakah bayi Anda juga begitu? Jika demikian, Anda tak perlu cemas.

Tapi ada baiknya, Anda melakukan upaya untuk mengurangi atau mengatasi kebiasaan muntahnya. Langkah pertama, cobalah memberi makan si kecil hanya ketika ia lapar. Anda tentu tahu tanda-tandanya jika ia lapar. Nah, ketika menyuapi, posisikan dia agak tegak dan sesekali tepuk-tepuk punggungnya. Dengan cara ini, mudah-mudahan si kecil tak muntah-muntah lagi. Namun Anda perlu waspada, kalau bayi Anda muntah-muntah terlalu sering, apalagi jika berat badannya tak kunjung naik, rewel, dan tampak kesakitan. Jika bayi Anda menunjukkan gejala seperti ini, segera bawa dia ke dokter.

Mengenalkan makanan padat

Makanan padat disarankan mulai diperkenalkan ketika bayi berusia empat bulan. Ketika bayi mulai mendapat makanan padat, apalagi kalau ia mulai menyenangi itu, biasanya volume minumnya jadi berkurang. Begitu pun ASI (Air Susu Ibu) atau susu formulanya. Kadang-kadang, hal ini membuat ibu agak bingung: mana yang lebih penting, gizi dalam susu atau dalam makanan?

Dalam hal ini, Anda perlu catat bahwa ASI atau susu formula masih merupakan bagian yang sangat penting dalam makanan sehari-harinya, walaupun ia sudah mulai mengonsumsi makanan padat. Ini karena lemak susu sangat penting untuk pertumbuhan otaknya, dan kalsium akan membantu pertumbuhan tulang dan giginya. Tapi, menurut Susan, masih aman dan sehat, jika Anda secara perlahan mengurangi asupan cairan, termasuk susu, untuk si kecil. ”Sepanjang pertumbuhan badannya tetap normal, Anda tak perlu mengkhawatirkan hal ini,” katanya.

Si kecil suka ngemil

Siapa bilang, cuma orang dewasa saja yang suka ngemil. Anak-anak, bahkan bayi pun tak sedikit yang punya kebiasaan ini. Kini perhatikan bayi Anda, apakah ia termasuk kelompok ini? Biasanya, kegemaran ngemil dimulai ketika bayi mulai merangkak atau belajar berjalan. Pada masa ini, tak ada yang paling menyenangkan hatinya kecuali bergerak ke sana kemari. Pendek kata, ia lebih suka bergerak ketimbang duduk dan makan.

Makan makanan kecil sepanjang hari memang memungkinkan dia tetap mendapatkan asupan kalori yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitasnya. Walau begitu, bukan berarti Anda boleh bernapas lega. Sebab, dari ngemil, sulit bagi si kecil untuk mendapatkan asupan makanan sehat dengan kandungan gizi yang baik. Mengapa demikian? ”Sebab, makanan ringan umumnya memang kurang bergizi,” kata Susan.

Nah, untuk mengatasinya, Anda mesti mengupayakan agar makanan ringan yang dikonsumsi si kecil memiliki kandungan gizi dan kalori yang setara dengan jika ia makan seperti biasa. Dalam hal ini, ada beberapa pilihan makanan ringan yang bisa diberikan pada anak yang suka ngemil, misalnya: sereal, pisang, atau keripik keju. Makanan ringan ini disarankan untuk diberikan pada anak Anda karena banyak mengandung vitamin dan mineral.

Apakah Anda akan membiarkan si kecil dengan kebiasaan ngemilnya? Sebaiknya tidak. Anda disarankan untuk terus-menerus melatih dia agar memiliki kebiasaan makan yang baik. Pada anak yang memang sudah suka ngemil, mungkin upaya ini tidak terlalu mudah dilakukan. Tapi tetaplah berusaha. Salah satu jurus yang bisa Anda terapkan, ajaklah si kecil untuk ikut duduk bersama Anda dan keluarga di sekeliling meja makan ketika waktu makan tiba.

Awalnya, tak perlu tiga kali sehari, tapi cukup satu kali saja. Agar ia bisa duduk dengan nyaman, Anda perlu menyediakan kursi makan khusus untuknya. Ketika ia berumur dua tahun, tingkatkan frekuensi kebersamaan Anda dan dia di meja makan. Dari yang semula satu kali, menjadi dua atau bahkan tiga kali. Sementara itu, batasi frekuensi ngemilnya menjadi paling banyak dua kali sehari saja.

Hari ini banyak makan, besok sebaliknya

Anak-anak berusia 12 bulan hingga tiga tahun banyak mengalami hal ini. Jika anak Anda pun demikian, tak perlu terlampau cemas. Sebab, dibanding orang dewasa, anak-anak justru memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memonitor rasa lapar. Tak seperti orang dewasa yang segera akan makan begitu ada makanan di depan matanya, tak demikian halnya dengan anak-anak.

Ketika merasa tidak tertarik dan tidak lapar, ia tak akan melahap makanan yang disajikan. Napsu makan yang tidak tentu (fluktuatif) ini umumnya akan membaik seiring dengan bertambahnya usia. Jadi Anda tak perlu merisaukan hal ini. Karena itu pula, Anda tak perlu memaksa-maksa si anak untuk makan kalau ia sedang tak berselera.

O ya, Anda perlu tahu juga bahwa napsu makan anak bisa juga dipengaruhi oleh kebiasaan minumnya. ”Terlalu banyak minum susu atau jus juga bisa mengurangi napsu makan anak,” kata Kathleen Zelman, ahli gizi dari American Dietetic Association. Jadi, kalau anak Anda termasuk gemar minum jus buah, jangan biarkan ia minum jus sepanjang hari. Batasi hanya dua atau tiga kali sehari. Upaya pembatasan ini mungkin tak selalu gampang.

Untuk mengakalinya, coba saja encerkan minuman jusnya dengan menambahkan air putih. Lakukan terus, sampai ia terbiasa untuk minum air putih kapan pun merasa haus. Bagaimana dengan susu? Tentu saja ini minuman yang baik dan bergizi buat si kecil. Tapi ingat, pemberian susu ini hendaknya tidak sampai mematikan napsu makan si anak.

Pilih-pilih makanan

Kadang-kadang, anak pun punya beberapa makanan favorit. Begitu favoritnya, sampai-sampai ia tak mau makan yang lain. Pada orang dewasa, terpaku hanya pada satu jenis makanan selama berbulan-bulan tentu sangat membosankan. Tapi pada anak-anak, menikmati makanan kegemarannya setiap hari justru akan mendatangkan rasa aman dan nyaman. ”Bersikukuh pada satu jenis makanan dan menolak yang lainnya juga merupakan cara anak-anak untuk menegaskan posisinya pada orangtua,” kata Zelman.

Jika anak Anda pun demikian, berusahalah untuk tidak bersikap berlebihan. Hindari memaksa atau memarahinya. Tapi jika Anda cemas akan asupan gizinya, cobalah catat apa saja yang dimakan anak Anda selama sepekan atau dua pekan. Kemudian, tunjukkan catatan ini pada dokter anak Anda. Dari catatan ini, dokter akan bisa menentukan apakah anak Anda mendapat asupan makanan dan gizi yang cukup atau tidak.

Untuk memperbaiki kebiasaan makan anak Anda, cobalah untuk mengenalkan beberapa jenis makanan baru dalam menu makan hariannya. Ingat, Anda tak perlu memaksa. Jadi, buatlah suasananya sesantai mungkin. Makanan baru itu pun, tak perlu diberikan dalam jumlah banyak. Sedikit saja, dan tempatkan dalam satu piring bersama makanan kegemarannya. Tak perlu berkecil hati, andaikan ia tak mau menyentuhnya. Tapi, rasa ingin tahu yang ada pada anak-anak, lama-lama akan membuat dia mau mencicipi makanan baru itu. Percayalah!

 

Demikian informasi tentang Inilah Masalah Bayi Sulit Makan semoga bermanfaat bagi anda semua.