Selamat Datang Di Pangupodit.com, Semoga Semua Informasi Ini Bermanfaat Bagi Anda.
Tweet This! Share on Facebook Digg it! Add to Delicious! Stumble it

Kecelakaan Maut Pesawat Sukhoi Di Gunung Salak

| May 11th, 2012 at 01:05 am

Berita yang paling hangat diperbincangkan akhir minggu ini adalah kecelakaan maut pesawat Sukhoi Superjet-100 di kawasan Gunung Salak, Bogor yang dikenal sebagai daerah yang kerap terjadi kecelakaan pesawat. Pegunungan dan cuaca yang kerap tak ramah bisa menjadi penjegal pesawat secanggih Sukhoi.

Pesawat dengan nomor penerbangan RA 36801 tersebut diketahui hilang kontak dari menara pengawas pada pukul 14.33 WIB. Saat itu diketahui terdapat 50 penumpang yang berada dalam pesawat yang terdiri dari 44 orang sipil, sementara 8 orang merupakan awak pesawat.

Pesawat yang didatangkan oleh PT Trimarga Rekatama tersebut melakukan demo flight dengan mengundang sekitar 100 undangan yang terdiri dari pebisnis yang bergerak di bidang penerbangan dan media massa.

Sukhoi mengklaim pesawat Sukhoi Superjet-100 ini punya sistem navigasi yang canggih. “Sistem darurat pesawat ini mudah dikendalikan dan friendly bagi pilot,” kata Carlo Occhiato, Training & Flight OPS Project Manager Sukhoi, saat diwawancarai oleh Aviation Week, beberapa waktu lalu. Bahkan pesawat ini diklaim bisa didaratkan oleh satu pilot. Toh, pesawat ini hilang di kawasan Gunung Salak, Bogor, saat melakukan demonstrasi terbang, Rabu, 9 Mei 2012.

Lepas landas dari Halim Perdanakusuma, Jakarta, pukul 14.12 WIB, selang 21 menit kemudian, pilot pesawat minta izin turun dari ketinggian 10.000 kaki (3.000 meter) ke 6.000 kaki (1.800 meter). Sejak itu, pesawat hilang dari radar pada ketinggian 6.200 kaki.

Pengamat penerbangan sekaligus pilot pesawat nonkomersial, Alvin Lie, mengatakan di daerah Gunung Salak sering ada kabut. Cuaca buruk ini bisa menyebabkan turbulensi sehingga pesawat tidak stabil. Menurut dia, gunung di perbatasan Bogor-Sukabumi ini rawan untuk pesawat ukuran kecil.

Berada di ketinggian 2.211 meter, kawasan Gunung Salak dikenal sebagai lokasi jatuhnya sejumlah pesawat. Berikut ini datanya:

- 10 Oktober 2002
Pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor. Korban: 1 tewas.

- 29 Oktober 2003
Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Korban: 7 tewas.

- 15 April 2004
Pesawat paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Korban: 2 tewas.

- 20 Juni 2004
Pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, di Cijeruk, Bogor. Korban: 5 tewas.

- Juni 2008
Pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Korban: 18 tewas.

- 30 April 2009
Pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor.
Korban: 3 tewas.

 

Kecanggihan Pesawat Sukhoi Superjet 100

Pada Juni 2001, Sukhoi Civil Aircraft Company (AVPK Sukhoi) mengumumkan program Russian Regional Jet (RRJ). Russian Aviation, Agensi Angkasa Rosaviakosmos, dan Perusahaan Boeing bersatu membangun dan memasarkan Jet Regional Rusia dan Sukhoi. Ilyushin dan Boeing secara formal menandatangani kesepakatan pada Juli 2001.

Ilyushin bertanggung jawab pada sertifikasi pesawat. Boeing menangani pamasaran, termasuk penjualan. Layanan servis dukungan seperti logistik operasional, perawatan, dan suku cadang juga ditangani Boeing. Pesawat ini pun diberi nama Sukhoi Superjet 100 pada Juli 2006.

Penerbangan Pertama Sukhoi Superjet 100

Superjet 100 dengan kapasitas 95 kursi ini digulirkan September 2007 di pabrik perakitan KnAAPO di Komsolmosk-on-Amur, Siberia, Rusia. Penerbangan pertama terjadi pada Mei 2008.

Pesawat kedua menjalani tes penerbangan pertama pada Desember 2008. Pesawat ketiga pada Juli 2009.

Pada 10 Desember 2009, pesawat ini mulai pengujian ketinggian dan sukses menjalaninya pada 23 September 2009. Pesawat ini pun meraih sertifikasi Rusia awal April 2009 dan menerima sertifikasi resmi dari Komite Penerbangan Interstate Aviation Rusia pada Februari 2011.

Desain Pesawat Sukhoi SuperJet 100

Anggota Sukhoi Holding, Novosibirsk Aircraft Production Association (NAPO) memproduksi 40 persen dari bagian RRJ. Mereka menangani bagian hidung, permukaan ekor vertikal dan horizontal, serta unit daya tambahan.

Para Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO) selaku anggota Sukhoi Holding membuat sayap belakang. Perakitan final RRJ berlangsung di Komsomolsk-on-Amur.

Superjet 100 telah memenuhi syarat tingkat kebisingan darat yang diatur standardisasi ICAO Bab 4 dan FAR 34 Bagian 4.

Pada Maret 2005, perusahaan Sogitech dari Perancis dan Pesawat Penerbangan Sipil Sukhoi sepakat menandatangani pengembangan spesifikasi untuk membuat publikasi interaktif teknis elektronik dalam rangka mendukung layanan purna jual.

Dek dan perangkat avionik disuplai oleh Thales. Dek penerbangan sama dengan desain pesawat Airbus A380. Perangkat avionik termasuk tampilan kokpit, komunikasi, navigasi, dan sistem pengamatan juga disiapkan Thales mulai Juni 2005.

CMC Electronics menjadi pemasok sistem manajemen penerbangan CMA-9000. Leibherr Aerospace, yang berbasis di Toulouse, Perancis dan Pusat Desain Voscod di Rusia bertanggung jawab atas sistem pengendalian penerbangan RRJ. Leibherr juga mengembangkan kontrol udara dan sistem pendingin.

Dua Mesin Sukhoi

Menurut laman Aerospace-technology.com, Superjet 100 didukung dua mesin di bawah pesawat. Snecma Moteurs dan NPO Saturn telah mendirikan perusahaan patungan, Powerjet untuk menghasilkan mesin turbofan SaM146. Setiap mesin ini mendapat nilai 62kN hingga 71kN.

Mesin juga dilengkapi dengan otoritas kontrol digital elektronik penuh (Full Authority Digital Electronic Control atau FADEC) dari Snecma. Sistem mesin bertekanan rendah dikembangkan oleh NPO Saturn.

Institut Riset Penerbangan Gromov menandatangani perjanjian dengan Snecma Moteurs untuk mengembangkan mesin uji Ilyushin Il-76 untuk mesin kipas turbo SaM146. Uji terbang untuk mesin dimulai pada Desember 2007.

Tenaga Pesawat Sukhoi SuperJet 100

Perusahaan berbasis di Perancis, Intertechnique memasok sistem pengisian bahan bakar. Pesawat ini memiliki kapasitas bahan bakar 13.135 liter (10.600 kg).

Pasokan daya tambahan pesawat dirancang Honeywell dan MMPP Salyut. Pesawat ini juga dilengkapi sistem listrik Hamilton Sundstrand dan penekan api Wright Curtiss.

Perangkat Pendaratan Sukhoi Super Jet 100

Superjet 100 mendapat perlengkapan perangkat pendaratan roda gigi kembar tipe roda tiga. Sistem pengereman Sukhoi, roda Goodrich, dan rem juga telah disiapkan oleh Messier-Dowty. Empat roda ditawarkan sebagai pilihan untuk unit roda pendaratan utama.

Kendati didukung teknologi canggih, pesawat Sukhoi Superjet 100 hilang kontak Rabu 9 Mei 2012 sekitar pukul 14.50 WIB di Indonesia. Jenis pesawat yang hilang itu yakni Sukhoi 100 FN RA36801.

sumber: dari berbagai sumber.

Demikian informasi tentang Kecelakaan Maut Pesawat Sukhoi Di Gunung Salak semoga bermanfaat bagi anda semua.