Selamat Datang Di Pangupodit.com, Semoga Semua Informasi Ini Bermanfaat Bagi Anda.
Tweet This! Share on Facebook Digg it! Add to Delicious! Stumble it

Pengaruh Orang Tua terhadap janin dalam kandungan

| March 23rd, 2012 at 12:03 pm

Pengaruh Orang Tua terhadap janin dalam kandungan. Allah SWT dengan segala kekuasaan-Nya menciptakan alam semesta beserta isinya. Dia juga menciptakan manusia dengan struktur yang sangat indah, bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Hal ini sangat jelas digambarkan dalam al-Qur’an surat at-Thin ayat 4;

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat bagus” (Q.S. at-Thin : 4).[1]

Dalam proses penciptaan manusia, Allah juga telah menunjukkan kekuasaan-Nya. Dia menciptakan manusia dengan berbagai proses. Prof. Dr. M. Mutawalli asy Sya’rowi menuliskan tentang empat macam proses penciptaan manusia yaitu :

Penciptaan langsung dari Allah, artinya bukan melalui sebab hubungan laki-laki dan perempuan. Contohnya, penciptaan Nabi Adam as. (disebut manusia tanpa bapak ibu).
Penciptaan melalui seorang laki-laki saja, contohnya, penciptaan Siti Hawa (manusia tanpa ibu). Ia diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sebagaimana firman Allah :

Yang Artinya : “Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan dari padanya Allah menciptakan istrinya….(Q.S. an Nisa’ : 1)

Penciptaan melalui laki-laki dan perempuan, contohnya kita (disebut manusia berayah dan beribu) yang diciptakan melalui hukum kausalitas (sebab akibat). Di sini Allah menciptakan manusia melalui sebab hubungan antara laki-laki dan perempuan (ayah dan ibu), tetapi Allah tetap terlibat di dalamnya.
Penciptaan melalui perempuan saja, contohnya Isa as bin Siti Maryam (disebut manusia tanpa ayah).[2]

Dari keempat proses penciptaan manusia tersebut, tidak lain untuk menunjukkan bukti-bukti kekuasaaan Allah SWT.

Beberapa ahli, seperti Aristoteles, Sigmund Freud, Oswald Kroh,[3] selintas menjelaskan bahwa perkembangan anak itu terjadi setelah anak lahir, mereka tidak menjelaskan tentang perkembangan jiwa anak sejak dalam kandungan. Padahal, selama dalam kandungan, anak sudah mengalami perkembangan, dari mulai pematangan ovum karena berhasil dibuahi oleh sperma, kemudian menjadi alaqah, lalu mudgoh, lalu idhom yang kemudian Allah meniupkan ruh ke dalam janin sehingga dia menjadi makhluk yang dikehendaki oleh Allah yaitu manusia.

Di dalam buku Child Psychology dijelaskan, bahwa janin dalam kandungan mengalami perkembangan artinya mengalami proses dari permulaan kehamilan sampai melahirkan, yaitu kira-kira 9 bulan atau kurang lebih 280 hari.

“Over the period of the 10 lunar months (usually about 280 days) of pranatal development, the new organism show many varieties of change”.[4]

Kurang lebih 10 bulan atau 280 hari bayi dalam kandungan mengalami perkembangan, manusia baru itu mengalami banyak perubahan.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, perubahan atau perkembangan itu dimulai, ketika salah satu sel sperma sang ayah membuahi sel ovum dari sang ibu melalui coitus, sel ovum yang telah matang, lalu terbentuklah benih, lalu berubah menjadi alaqah, lalu mudghoh, dan sesudah itu mulailah terbentuk organ-organ tubuh. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat Al-Mu’minun ayat 12-14:

Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah, kemudian kami jadikan saripati itu nutfah (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikan manusia (makhluk) yang berbentuk lain. Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik. (Q.S. al-Mu’minun :12-14)[5]

Nabi Muhamad juga bersabda:

Yang Artinya : “Dari Abdullah r.a. katanya : Rasulullah menjelaskan kepada kami, bahwa setiap kamu diproses dalam perut ibunya selama 40 hari kemudian 40 hari lagi menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) kemudian 40 hari lagi menjadi mudghoh (segumpal daging) lalu dikirim malaikat untuk meniupkan ruh dan disuruh menuliskan 4 macam keputusan untuk hari depan sibayi; tentang rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya, nasib celaka dan beruntungnya. Maka demi Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya seorang mengamalkan amalan ahli surga hingga jarak antaranya dan ahli surga hanya sekedar satu hasta lagi, tetapi karena tulisannya telah menetapkan maka beramalah ia dengan amalan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka, sebaliknya seorang beramal dengan amalan ahli neraka, hingga sekedar satu hasta lagi jaraknya dari neraka, tetapi tulisannya telah menetap, maka ia (berbalik) mengerjakan amal ahli surga maka masuklah ia ke dalam surga.(H.R. Muslim)[6]

Inti dari hadits di atas, menerangkan tentang perkembangan janin dalam rahim ibu, dari mutfah sampai menjadi mahluk Allah yang paling baik wujudnya.

Selama pembentukan nutfah, atau dimulainya pembuahan dalam kandungan, umumnya seorang ibu mengalami perubahan-perubahan baik dari segi fisiknya maupun dari segi psikisnya. Kadang wanita hamil mengalami kecemasan , ketakutan selam masa kehamilan. “seorang wanita mengalami kecemasan atau ketidakbahagiaan yang ekstrem dan terus berlanjut selama kehamilan berlangsung ada kemungkinan terjadi perubahan grandular, yang berkait dengan emosi yang menyebabkan gangguan kimiawi pada tubuh”.[7]

Seharusnya hal itu tidak terjadi, karena seorang ibu harus lebih menjaga ketenangan, menghilangkan rasa cemas dan takut, karena suasana hati ibu yang tidak menentu akan berpengaruh pada perkembangan janim dalam kandungan. Menyebabakan kecacatan pada anak jika tekanan emosi yang ekstrem itu terjadi pada minggu-minggu pertama setelah berlangsungnya konsepsi.[8]

Pendidikan adalah masalah yang penting karena dapat berpengaruh pada masa depan anak, dan pendidikan itu hendaknya dimulai sejak anak dalam kandungan. Sehingga ketika anak lahir ke dunia ini sudah terbiasa dalam pendidikan. Mengenai bagaimana metode, jenis pendidikan yang diberikan dan hal-hal yang diberkaitan dengan pendidikan anak dalam kandungan akan peneliti bahas pada bab-bab selanjutnya.

F.Rene Van de Carr, M.D., dan Marc Lehrer, Ph.D. menjelaskan, ”Menurut pengalaman kami dan pengalaman para profesional di rumah sakit, klinik dan rumah bersalin bayi-bayi yang mendapat stimulasi sebelum lahir biasanya lebih penuh perhatian (terutama pada suara orang tua mereka) dan lebih termotivasi untuk belajar, hal ini karena anda telah mengajaknya bicara selama beberapa bulan dalam kandungan atau sebelum dilahirkan”[9]

Orang tua tetap menjadi pendidik utama bagi anak terutama selagi anak masih dalam kandungan, dengan kata lain disatu sisi orang tua memberikan faktor keturunan dia juga faktor lingkungan bagi anak. Pendidikan yang pertama adalah upaya penanaman agama dan budi pekerti, hal ini harus dilakukan oleh orang tua sedini mungkin sejak dimulainya hubungan senggama yang nantinya dapat terjadi pembentukan nutfah. “Hendaknya laki-laki dan wanita menjauhi dosa, maksiat pada malam senggama dan saat hubungan intim, bahkan mereka harus berhati-hati terhadap hal-hal itu sebelum berhubungan intim dan setelahnya. Apabila terjadi dan nutfah terbentuk, sedangkan suami istri dalam keadaan maksiat atau dosa, maka hal itu akan membawa pengaruh terhadap kondisi dan prilaku kejiwaan anak, bukan lantaran dosanya melainkan karena perbuatan maksiat orang tuanya secara langsung sebelum dan sesudah hubungan intim”.[10]

Jadi, baik itu seorang ibu dan ayah dan orang-orang disekitarnya dapat memberikan pengaruh terhadap janin, dan menjaga dengan sebaik-baiknya terhadap anak yang ada dalam kandungan adalah langkah yang paling tepat.

Masa kehamilan memiliki peran penting terhadap masa depan anak, karena masa itu merupakan masa jerih payah seorang ibu. Dalam al-Qur’an menggambarkan tentang jerih payah seorang ibu dalam mengalami masa kehamilan. firman Allah :

Yang Artinya : “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada orang tuanya, ibunya yang telah mengandung dalam keadaan lemah bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kamu kembali”.(Q.S. Luqman :14).[11]

Dari ayat di atas Allah menjelaskan tentang kondisi seorang ibu dalam keadaan hamil, yaitu dengan fisik yang lemah dan suasana hati yang cepat berubah, mungkin dikarenakan perubahan fisik yang semakin hari semakin tidak sedap dipandang, atau mungkin juga terlalu cemas dengan keadaan bayi yang ada dalam kandungannya. “Bagi banyak wanita, kehamilan merupakan saat depresi, kecemasan dan khawatir tentang kelahiran anak, mempunyai anak cacat, atau ketidak mampuan untuk menjadi seorang ibu bagi yang lain, ia merupakan saat penantian yang berbahagia.[12]

Karena dinilai sangat berat oleh seorang ibu dalam mengandung, maka pantaslah jika Nabi Muhammad SAW memberikan penghargaan pada wanita hamil sama halnya seperti orang berjihad di jalan Allah membela agama Islam. Nabi bersabda:

Yang Artinya : “Telah datang hadlonah perempuan yang menyusui Ibrohim, putra Rasulullah SAW., bertanya: “Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan kabar gembira dalam segala hal kepada pria, akan tetapi engkau tidak memberikan kabar gembira untuk kaum wanita”. ”Rasulullah SAW menjawab : (“Apakah teman-temanmu mengipasimu untuk bertanya seperti itu”) ?. Lalu jawabnya” : “Benar, mereka menyuruhku seperti itu”. Lalu sabadanya : “Tidaklah seseorang diantara kamu ridla jika hamil dari benih suaminya dan suaminya bangga dengan kehamilannya itu, bahwa wanita itu mendapat pahala sama dengan seorang prajurit yang puasa ketika berperang di jalan Allah dan bila wanita tersebut menderita sakit sewaktu melahirkan, maka betapa kegembiraan yang dirasakannya dengan lahirnya buah hatinya yang tak diketahui penghuni langit dan bumi”. (H.R. Ibnu Al-Jauzy)[13]

Dari sabda Nabi di atas, maka berbahagialah seorang wanita yang dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu, karena penghargaan yang diberikan oleh Allah sangatlah tinggi, yaitu tidak kalah dengan prajurit yang berjuang di medan perang untuk membela agama Allah.

[1] Departemen pendidikan agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahnya, Toha Putra, Semarang, 1992, Hal. 1076

[2] Prof.Dr.M.Mutawalli As-Sya’rawi, Esensi Hidup dan Mati, terj. H. Halilullah Ahmas, Gema Insani Press, Jakarta, 1993, hlm 14-15

[3] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hlm 194-198

[4] E.Mavis Hetherington And Ross D. Parke, Child Psychology, MC.Hill Book, Singapore, 1986, hlm. 101

[5] Al-Qur’anul Karim, Op. Cit., hlm. 527

[6] Imam Muslim, Hadits Sohih Muslim, Juz II, Dahlan Bandung, hlm. 451-452

[7] M. Fauzila Adhim, Bahagia Saat Hamil Bagi Umahat, Mitra Pustaka, Yogyakarta, hlm. 46

[8] Ibid.

[9] F. Rene Van De Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D., Cara Baru Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan, Terj. Alwiyah Abdurrohman, Kaifa, Bandung, 2000, hlm. 39

[10] Husain Mazhahiri, Pintar Mendidik Anak, Terj. Segaf Abdilah Assegaf dan Miqdad Turkan, Lentera, Jakarta, 2000, hlm. 49

[11] Al-Qur’an dan Terjemahannya, Op.Cit., hlm. 654

[12] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, Alih Bahasa: Dr.Med.Meitasari Tjandrasa Dan Dra. Muslichah Zarkasih, Jilid I, Erlangga, Jakarta,1988, hlm. 68

[13] Al-Imam Abi Al-Faraj Abdurahman Ali Ibnu Al-Jauzy, Al-Maudluat, Juz II, Darul Kutub Al-Amaliyah, Birut, London,tth, hlm.178
Pengaruh Orang Tua terhadap janin dalam kandungan
Perkuliahan.com

Demikian informasi tentang Pengaruh Orang Tua terhadap janin dalam kandungan semoga bermanfaat bagi anda semua.